bukan puisi
matahari mulai bergeser dari lintang nol derajat
hujan deras dan angin menggila
semua terbang dan terendam
aku menggali dan menggali
dengan cakar-cakar kecilku
mencari kubur gurita
“sedang apa kamu di sini?”
suara serak menyeruak
dari sebuah lubang berkerak
“itu elu ya?”
kusipitkan mata sembabku
kukenali siluet kepala bulatnya
bantalan kakiku meredam langkah
akupun terebah lelah
bergelung serta memejam
dia masih menunggu jawabannya
sorot matanya menghujam kelopak mataku
memaksaku membuka mulutku
“gw sekarang tinggal di sini sama elu.”
kurubah posisi kepalaku
membelakanginya
“kenapa dengan dunia atas?”
nada suaranya tinggi
dia memang bisa juga keras
“lolongan gw pada bulan, udah seperti minyak tumpah di pelabuhan.”
“itu kan sudah biasa, dan bisa diatasi.
so, what are you doing here?”
ekorku mengibas
“as you see.”
“i don’t like to see what i see.”
aku mulai kesal
“cerewet sekali sih lu? just enjoy it will ya?”
“pemandangan yang kamu suguhkan sama saya sama
sekali gak menarik!”
telingaku berdiri
hatiku masih bisa merasakan sakit rupanya
“iyaa… bulu gw udah pada rontok, kumis gw pendek, dan mata
gw belekan!”
“dasar kucing liar penyakitan!”
terdengar tawanya terkekeh
mengasihaniku
“apa yang kamu harapkan dari saya?
kata-kata manis?
studi banding?
asal kamu ingat saja.
kita ini,
tidak sama.
di dunia atas saya berjaya.
dari sinipun,
saya masih bisa membuat pelangi bercahaya.
sedang kamu
bagai pestisida,
yang meracuni tanah kubur saya!”
taringku mendesis
akupun berdiri dengan kuku-kukuku
betapa perih kata-kata yang mengiris dari dalam
what have I done?
mencari kekuatan dari sesosok bangkai?
astaga, betapa memilukannya diriku!
“dasar tolol!
apa bagusnya pelangi bercahaya buat elu?
lu udah mampus!”
gurita itu balas mengamuk dengan seluruh kakinya
menggelosorkan tanah di antara kami
menyisakan sebuah celah
aku masih bisa mendengar
pesannya padaku
berbisik menggema
“kalau saya jadi kamu,
saat ini saya ada di pantai biru,
bersama pinguin-pinguin saya..”
aku tersadar
betapa tega aku mengusiknya
dengan luka kecilku
“biarkan gw di sini plis..
gw hanya menunggu musim semi yang tepat,
dan kembali lahir jelita.”
aku mendapat jawaban
sebuah celah
yang tertimbun tanah
maka kutinggalkan cap bantalan kakiku
di dinding kuburnya
dan kembali menggali ke atas
saat teraba tanah basah,
aku tahu aku hampir sampai
namun aku terhenti
aku menoleh
pada dinding-dinding pekat
yang membungkusku rapat
hm..
betapa hangat
ketiadaan ini
cakar-cakar kecilkupun kembali menggali terowongan-terowongan baru
tidak ke atas
tidak pula ke bawah
mungkin aku bukan lagi seekor kucing yang takut air
mungkin aku sudah menjelma menjadi
seekor tikus tanah
Shonandai, March 2008